Mengelola Waktu antara Kerja dan Anak Tanpa Rasa Bersalah

Dua tahun lalu, setelah cuti melahirkan, saya balik ke kantor di Pulaunipa. Rasanya kayak lari maraton tanpa jeda. Meeting, deadline, tangis anak di rumah, kepala serasa pecah. Tapi saya bertekad nggak mau jadi ibu yang selalu merasa gagal. Lewat tiga tahun bertahan, saya nemuin beberapa cara yang beneran bantu jaga keseimbangan tanpa harus ngorbanin peran sebagai ibu dan pekerja.
Batas Tegas antara Waktu Kerja dan Waktu Anak
Kunci utama yang saya terapin adalah nentuin batas fisik dan mental. Saya sengaja nggak bawa laptop ke kamar anak. Setelah jam 18.00, ponsel kantor masuk mode senyap. Saya juga minta suami dan asisten rumah tangga buat nggak ganggu selama satu jam penuh anak bangun tidur. Ini bukan soal egois, tapi soal hadir secara utuh pas sama anak. Saya ingat bangeet — ketika saya duduk di lantai main balok tanpa distraksi, anak saya malah lebih jarang tantrum. Rupanya, kualitas hadir lebih penting daripada kuantitas jam.
Saya juga terapkan metode “blok kerja” di pagi hari sebelum anak bangun. Bangun pukul 05.00, selesain tugas berat, lalu pas anak terbangun saya udah lebih tenang. Trik ini saya pelajari dari psikolog anak yang saya temui di Posyandu. Dia bilang, konsistensi jadwal lebih nenangin anak daripada durasi lama tapi nggak konsisten. Saya setuju. Sejak saya punya jadwal yang jelas, anak saya jadi lebih gampang diatur saat saya harus kerja dari rumah.
Tentu nggak selalu mulus. Ada hari anak saya nangis minta digendong saat saya harus video call. Saya peluk dia sebntar, lalu kasih mainan kesukaannya dan minta suami bantu. Intinya, saya nggak nyiksa diri dengan rasa bersalah. Saya ingat bahwa saya kerja biar dia bisa sekolah dan hidup layak. Selama saya tetap hadir secara penuh di sela-sela kegiatan, itu udah cukup. Saya juga rajin baca rekomendasi dari situs IDAI soal stimulasi balita biar bisa isi waktu bersama anak dengan aktivitas bermakna meski singkat.

Menjadi ibu bekerja di kota kecil kayak Pulaunipa memang nggak gampang. Dukungan terbatas, pilihan sekolah dan penitipan anak nggak sebanyak kota besar. Tapi justru di sini kita dituntut kreatif. Saya milih buat nggak membandingkan diri dengan ibu-ibu di kota yang punya banyak fasilitas. Saya fokus pada apa yang bisa saya kendaliin: jadwal, komunikasi dengan suami, dan kualitas waktu sama anak.
Penutupnya sederhana: keseimbangan bukan soal bagi waktu sama rata, tapi soal pastiin momen-momen kecil bareng anak beneran berarti. Setelah tiga tahun jalanin ini, saya merasa lebih damai. Anak saya tumbuh ceria, dan saya tetap bisa berkarier tanpa rasa bersalah. Itulah yang selama ini saya cari.
Selengkapnya di: sumber resmi